Beranda » Opini » Soal Rohingya,Indonesia, Malaysia, Brunei Darusalam Patut Buat Aksi Bersama.

Senin, 16 Oktober 2017 - 23:10:48 WIB
Soal Rohingya,Indonesia, Malaysia, Brunei Darusalam Patut Buat Aksi Bersama.
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Opini - Dibaca: 95 kali

Oleh Mas ud HMN *)

Soalan Rohingya  sebagai kejahatan kemanusiaan sudah amat nyata.sudah berlansung sejak lama, dan paling serius sejak 2013.Sudah lebih 5 000 muslim yang dibunuh rezim Myanmar, dan 370.000 yang mengungsi ke Bengladesh Bagi Asean, khususnya negara berpenduduk Muslim, Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam,agaknya perlu berkordinisi.Melakukan  aksi bersama

Kata Sekjen PBB Antonio Guteres , bahwa tindakan militer  Myanmar pada etnis Rohingya adalah Genoside (BBC 14/9).Tentu saja pernyataan ini bukan statemen main-main. Masyrakat dunia Islam  beradab, mesti menanggapi dengan serius. Sekjen PBB saja sudah menyatakan Genoside. Mengapa  kita Asean yang  berpenduduk Muslim masih berbasa basi ?

Maka, pertanyaan perlukah unmat Islam Asean untuk mengkordinir tindakan radikal bagi suku Rohingya yang ditindas militer Myanmar kini? Jawabnya  ya, perlu ! Hal itu mengingat Rohingya sebagai korban kekejaman kemanusiaan belaka, tetapi juga  problem umat islam di ASEAN berdimensi banyak.Sebut saja soal umat Islam dengan tanggung jawab Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Tiga negara ini adalah negara mayoritas islam, menjadi anggota Asean.

Intinya,tidak pantas bagi tiga negara tersebut untuk berpangku tangan,membiarkan Keadaan Moslim di Rohingya teraniaya tanpa solusi.Sebab, rakyat mereka menuntut pemimpin negaranya untuk aktif, mengambil apapun langkah yang diperlukan.

Memang secara sepihak  sudah ada lembaga keagamaan mengumpulkan  sumbangan dengan sukarela.Mendahului pemerintah sendiri menyiapkan sumbangan  untuk Rohingya. Memobilisir rasa ikut beratanggung jawab, menyebarkan pesan ukhuwah, solidaritas ikhlas, serta iringan  doa  untuk keselamatan warga Rohungya yang dizalimi habis oleh pemerintah Myanmar.

Apa yang mereka lakukan, sesuai dengan pesan Sekjen PBB agar Myanmar nenyetop perbuatan pelaggaran Ham berat yang terjadi. Seperti dinyatakan Sekjen PBB Gutheres, bahwa perbuatan pemerintah Myanmar terhadap  suku Rohyngya “adalah Genoside”. Pembunuhan kejam.

 Kutukan Sekjen merupakan refsentasi suara hati masyrakat Rohingya dan kesadaran umat manusia terhadap kekejaman kemanuisaan yang dilakukan negara. Hanya saja isu palenggaran tersebut  belum  cukup direspon masuyrakat dunia beradab. Mungkin karena banyaknya problem dunia kini.

Agaknya itu pula yang menyadarkan  univesrsity Oxpord, perguruan tinggi  di inggris yang cukup terkenal membuat tindakan menyabut gelar Au San Suci yang dianugerakan Oxpord University. Karena dipandang  tidak layak bagi seorang alumnus pendidikan tinggi terhormat  berperilaku  melanggar kemanusiaan.

Seperti direleas media barat, The Guardian Daily (27/9.2017) misalnya, masyrakat inggris merespon masalah pelanggaran kemanusiaan.Pimpinan Myammar mereka membuat cacat democrasi dengan pola militer.

Dengan tegas PM Inggris menyatakan perbuatan Pemimpin Myanmar. 

“ Aung San  Suu Ky and Burmese  government need to make very clear the that  military action should stop” (Au san Suky dan pemerintah Myamar  telah jelas aksi militer  yang mutlah dihentikan)  kata Theresia  May Perdana Menteri Inggris  (The Guardian  29/9)

Tentu saja ini satu hal yang harus diapriaciat tinggi, Karena mengingat hal itu  dapat  menimbulkan  serta membawa dampak poisitif terhadap penegakan HAM

Bagaimana hal itu  dilihat dari Indonesia ? Bagi kita  warga negara Indonesia sudah tentu sependapat dengan pihak yang menyatakan ada pelanggaran  kemanusiaan berat di Myanmar. Intinya dicarikan solusi agar suku Rohingya memperoleh haknya.Caranya mendukung pemerintah untuk merealisasikan tuntutan tersebut dengan semua pihak.

Pertama, menghentikan semua perbuatan militer Myanmar terhadap suku Rohingya dengan jaminan peranan Asean.

Kedua,memulihkan hak mereka secara politik sebagai bagian penyelesian jangaka panjang.

Ketiga, Inisiasi tiga negara. Yaitu dua point unsur diatas, harus diinisiasi oleh Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, sebagaai bagian tangung jawab Asean dan tanggung jawab terhadap warga Muslim. 

Akhirnya, sekali lagi tiga negara  yaitu Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam seyogyanya perlu menyusun aksi bersama.Tujuannya agar  penyelesaiannya fokus, soal pertentangan isu agama, dan isu politik.Selama ini ada bantuan, baik politik atau materil, tetapi bersifat masing masing negara.

Ini penting,menghindari masuknya unsur radikalisme dalam konflik Myanmar.Jika terjadi maka soalnya menjadi lain lagi. Intinya menjadi krusial, dan sulit untuk ditangani.Kita lakukan buffering, penyangga, agar anasir radikalisme  tidak masuk.Sebab akan berpotensi rumit,sulit pada kemudian hari. Kita patut menjaga agar pertentangan tidak  semakin meluas. Semoga !

foto> dailymoslem

Jakarta, 13 Oktober 2017

*) Dr Mas ud HMN adalah Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka  (UHAMKA) Jakarta


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)