Beranda » Ekonomi » Dari Learning ke Entrerpreneur

Jumat, 22 September 2017 - 22:40:58 WIB
Dari Learning ke Entrerpreneur
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Ekonomi - Dibaca: 50 kali

Oleh DR  Mas ud HMN*)

Semangat Islam berkemajuan merupakan  upaya  transformasi .perubahan .Yang tidak lain dari berubah dari kurang baik kepada yang lebih baik. Hal itu dapat dicapai melalui  pembelajaran, perubahan  sikap. Perubahan yang tepat, bernilai startegis

Pertanyaannya jika begitu apa isu perubahan pembelajaran, dan bagaimana isu tranformasi itu diberlansungkan ? Hal ini tentu tidak mudah dijawab, karena persoalan tranformasi tidak berdiri sendiri. Ada kaitannya dengan topik kajian lain.Khusus pada kesempatan ini--- sebagai renungan tahun baru Hijrah 1439--- penulis mencoba mengemukakan jawaban untuk perubahan berbasis   esensi learning (pembelajaran) dan enterpreuneur(wira usaha) 

Kata Leraning adalah kata benda (noun) bahasa Inggris  bermakna belajar,Ada urutan dengan kata  learning to understaand (belajar untuk mengerti), learning to know (belajar untuk faham), learning to do and working (belajar untuk trampil dan bekerja).

Selanjutnya Entrepreneur terkait dengan learning how to do and working pengertian  bermakna luas  Wira usaha  atau  berusaha sendiri, Terkdang  disebut juga  pengusaha. Adapun pengettian  Dari learning ke Entrepreneur judul tulisan inidimaksudkan   sebagai konsep penddikan yang berorientasi kerja,  tidak menganggur. Tuduhan umum salah satu  sebab Pengangguran yang terjadi  adalah sebagai  akibat rendahnya kualitas pendidikan.Karena bagaimanapun dunia kerja, memerlukan  unjuk kemampuan, tertentu yang  dihasilkan dunia pendidikan. Termasuk  bagaimana dengan  pengangguran, tingkat sarjana ? Bukankah mereka sudah lulus dari pendidikan tinggi ? Apa yang salah ?

Pndidikan Agama

Jawaban ini mungkin bisa dicari  dengan melihat ke masa lalu,Sejarah pendidikan kita pertama kali memang tidak memasukkan  bagaimana dunia kerja. Yang penting bagiman menjadi orang baik, jujur. Pendidikan agama, membentuk kaum Brahman era  pra sejarah  di Kerajaan Kutai dan Tarumanegara.

Berlanjut pada era  keadatangan Islam pendidikan juga berorientasi mendidik orang baik berdasar ajaran Islam. Munculnya pendidikan  masyratkat berpusat di surau, masjdi dan langgar. Yang dibangun adalah  kejiwaan, semangat.

Paska kedatangan bangsa barat ada perubahan dengan  dibentuknya pendidikan sekolah dengan palajaran membaca  dan berhitung, Tujuan utamanya adalah  untuk keperluan birokrasi pegawain kolonial. Lihatlah sekolah   dibawah  kolonial Belanda. Termasuk juga penjajahan Jepang melaksanakan penddikan yang bertujuan untuk mendukung pemerintahan Jepang.

Jadi,singkat kata  pendidikan masih sangat sederhana. Belum untuk tujuan lain. Termasuk  dunia kerja.Belum tersentuh

Hari Depan

Masa beralih, musim berganti . Masa  kemerdekaan membuka cakrawala.. Isu pendidkkan muncul dengan inti utamanya adalah  persekolahan. Orang harus bersekolah.Mereka  suskses pendidikan itu orang yang punya hari depan..Harus sukses di sekolah.

Saya mengalami sendiri. Bagaimana ayah saya  menekankan sekolah. Tanpa sekolah tidak punya harapan mnasa depan.. Ya demikianlah sebuah pengalaman, yang mengajarkan  pentingya sekolah. Pentingnya pendidikan untuk mampu menjadi  meraih hari depan.

Pengalaman  yang sama saya temukan juga di Manila, saat menempuh pendidikan Doktor disana.Yaitu betapa tekanan orang tua di Filipina  kepada anaknya  agar sukses sekolah. Kalau tak sekolah, pergilah ke gunung,, Istilah mereka,  menyingkirlah  jauh  nun kehutan belantara. Di Filipina  ada hari sarjana yang diperingati tiap tahun. Artinya simbolik tekadnya mereka yang kuat pada pendidikan.

Apa yang bisa ditarik  dari paparan diatas  sejarah pendidikan  berawal . pendidikan  untuk agama, kemudian  pendidikan untuk kepentingan kolonial, dan pendidikan persekolahan untuk  membangun kecerdasan. Kini Pendidikan kita berorientasi pada  sekolah dengan intinya belajar atau learning. Harapannya Pendidikan kita  mampu menghasilkan anak didik yang cerdas.Yang selebihnya kecerdasan itu harus diparaktekkan memprluas lapangan kerja dalam dunia usaha

Terhadap masalah pengngguran tenaga  terdidik, atau  penganguran sarjana, atau kaum intelektual memang belum terjawab. Pada saat in pengangguran tidak semata mereka yang  tidak sekolah, tapi juga  pengangguran sarjana. Dengan demikian pendidikan kita menyisakan masalah.

Solusi  masalah, mungkin tiba masanya kita berubah, Yaitu dari learning dengan inti belajar  kecerdasan, menjadi berubah “learnig how to do and working” untuk kerja dan menjadi  wira usaha. Kita belajar untuk cerdas dan  secara bersamaan kita belajar  bekerja.

Keharusan kerja diartikan tidak mau menganggur. Bekerja dan bekerja apa saja yang mungkin. Kalau tidak  ada tersedia  kesempatan pada lapangan kerja, mengusakan alternatif pilihan  bergerak kearah menciptakan usaha sendiri (wira usaha). Satu bentuk pendidikan trasformatif  dari Learning ke  Entreprwuneur. Semoga

Jakarta 21 September 2017

*) Penulis adalah Dosen Pascasarjna Universitas  Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta.


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)