Beranda » Hukum » Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK dan Peluru Emas

Sabtu, 16 September 2017 - 23:21:40 WIB
Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK dan Peluru Emas
Diposting oleh : MelayuToday.com
Kategori: Hukum - Dibaca: 63 kali

Oleh Dr Mas ud HMN*)

POKOK SOAL topik ini menempatKan preposisi bahwa terdapat hubungan pelaku korupsi dengan pemberi imbalan uang suap. Pemberi imbalan tidak  hanya pada  arti  uang, tapi juga yang lain lebih canggih. Inilah dimasa lalu diistilahkan “peluru emas”.

Oleh karena itu maka  adanya tembok pagar agar pejabat negara tak korupsi, menjadi sia-sia. Dapat ditembus,alias bobol jua.Faktanya demikian. Maka munculah ungkapan yang mengatakan tiada tembok tidak tembus Oleh “Peluru Emas”

Tembok kuat yang dibangun tiada arti. Setidaknya begitulah Fakta yang ada di Departemen perhubungan.Sehingga Menterinya mendapat pukulan telak. Tetapi mau bagaimana lagi.

Seperti terungkap kasus  Direktur jenderal Perhubungan Laut Atonius Tony Budioeno terkena operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komite pemberantasan Korupsi (KPK) menerima suap. Ditangkap di Mes Perwira Hubla jalan Gunung Sahari jakarta Pusat,,Langsung di amankan  dan dinyatakan sebagai tersangka.

Dijelaskan dana suap yang disiapkan ada 20,74   milyard rupiah. Cara pelaksanaannya diatur dalam simpanan dalam 33  kotak kardus.Dana  tersebut berkaiatan dengan urusan pembangunan proyek di Dirjen pelabuhan laut, termasuk  anggaran  tahun 2016/17.

Menteri Perhubungan tidak membantah terjadinya  korupsi oleh bawahannya. Menyerahkan semua terkait kasus itu diproses melaui proses hukum yang berlaku.Menyatakan siap bekerjasama dengan pihak penegak hukum dimana diperlukan bantuan dan keternukaan informasi demi transparansi

Adanya  OTT kali ini menunjukkan  korupsi dinegeri kita belum juga redup. Atau boleh distilahkan masih eksis dalam prkateknya. Ya, memang demikian yang terjadi.

Apalagi kasus ini  menjadi kasus OTT yang  terbesar. Kesimpulan itu sebab diantara kasus  OTT yang ditemukan selama ini. 20,74 milyard rupiah. Luar biasa (Detik News, 24/8).

Artinya luar biasa dinilai jumlah, dan dilihat tak terembunyai amat, apa lagi  pelakunya orang rangking tinggi pada  lembaga kementerian perhubungan. Suasananya juga, saat KPK mengencarkan operasi dengan kompannye  besar besaran pula.

Dari kasus ini, dapat dinyatakan ada  operasi terbuka antara koruptor dengan tidak sembunyi sembunyi. KPK menyerang dengan terbuka juga. Medan perang  Koruptor dan KPK masih berlansung terbuka. Belum ada yang menang dan belum ada  yang kalah.

Secara kajian, tidaknya menangnya  KPK meski formal ada dukungan power kuat tapi masih  belum mampu menundukkan Koruptor. Nampaknya itulah persoalannya. Ada faktor kunci.

Berkaitan faktor kunci ini, yang kita sebut  faktor pamungkas.Karena  KPK tidak memiliknya maka tidak dapat mengalahkan musuh atau memenangkan pertarungan  ini.

Terhadap  soal ini menarik cerita Yunus Yahya, seorang Cina  Muslim Tokoh Pembauran satu ketika pada  saya awal tahu  1980an, Ceritanya . ada seorang pengusaha di Semarang tahun lima puluhan. Ia pedagang, dengan barang  seludupan. Bisa di bilang sukses..

 Bedanya dengan OTT ia selalu bebas dari kejaran petugas. Kalau mengkaitkan dengan temuan kasus lama yang ada kemiripan. Jiwa dari kasus ini tidak takut pada petugas.Misalnya  dalam dalam kasus penyeludupan di Semarang Jawa Tengah. Tahun l950-han. Seorang Cina  bernama Oei Tian Ham. Ia tidak bisa ditangkap oleh petugas. Ia memiliki yang disebutnya peluru emas.Tidak ada yang tidak tembus oleh peluru emas

Saya menangkap kisah ini, koruptor tak akan berhenti dan tak takut pada  KPK. Pihak  lawan KPK punya senjata berisi amunisi peluru emas. Yang siap ditembakkan kepada KPK.

Peluru emas ? Pak Yunus Yahya (alm) muslim yang baik dan saya kenal,hanya tidak menjelaskan bentuknya rincianya apa dan bagaimana. Ini jelas “peluru emas” adalahkata kiasan atau kata sebenarnya. Kata dia, peluru emas inilah yang melumpuhkan semua.Itu pula yang dimiliki Oei Tian Ham.

Ya,Ia agaknya benar .Kita mungkin dapat menterjemahkan peluru emas  itu adalah uang yang identik dengan suap.Semua bisa dilumpuhlan oleh kekuatan uang melaui suap.

Jadi emas ini faktor menentukan  dalam keberhassilan pemberantassan korupsi. Jika uang koruptor banyak maka koruptornya kuat, dan KPK akan tetap kalah. Sebaliknya kalau koruptor tidak punya peluru emas maka ia lumpuh dan barulah takluk.Menyerah tidak  dapat memenangkan pertarungan

  Dari  ikhtisar diatas, masalah generik penyelewengan, suap korupsi, pencucian uang itulah yang sedang menjadi virus pada masyrakat  Indonesia kini. Antitesisnya kita harus memberantas itu semua jika bangsa ini dapat selamat.

 Peluru emas  bisa  ditembakkkan ke KPK,kepada Pejabat negara, atau yang lain Tergantung pada penembaknya diarahkan kepada saran mana..Atau tergantung momentumnya

Akhirnya, sudah tiba masanya kita bersama melakukan upaya untuk memangakan medan perang melawan korupsi.Yaitu:

Pertama, membangun senjata anti peluru emas. Yakni tembok kualitas  insani yang andal berkarakter.Sebuah wujud  akhlak mulia tak tergoda sensitif duniawi rendah

Kedua,menyingkirkan kepura puraan (hipokrisi) pelaksana penegakan hukum. Mengantinya dengan tranparansi  berintegritas kepada kepentingan bangsa

Dengan dua  upaya ini, mudah mudahan  kita aman dari ancaman peluru emas daan mmpu  keluar dari suasana yang kacau balau karena kalah oleh kekuatan korupsi. Insya Allah

Jakarta 8 September  2017

*)Penulis adalah  Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (UHAMKA) Jakarta

 Keterangan Foto dari: nasional.news.viva.co.id


BERITA TERKAIT

Home | Headline| Nasional| Megapolitan| Nusantara| Ekonomi| Teknologi| Profil| Lipsus| Hiburan| Sususunan Redaksi
© 2013 www.MelayuToday.com - All rights reserved | Diterbitkan oleh Pusat Kajian Peradaban Melayu (PKPM)